Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Juli 2012

Mutiara Hikmah Isra Mi’raj Rasulullah SAW

  Mutiara Hikmah Isra Mi’raj Rasulullah SAW


إنّ الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا, من يهده الله فلا مضلّ له ومن يضلل فلا هادي له.
أشهد أن لاإله إلاّ الله وحده لاشريك له وأشهد أنّ محمّدا عبده ورسوله، لانبي خلفه ولا رسول بعده
اللهمّ صلّ وسلّم على سيّدنا ومولانا محمّد وعلى أله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم القيامة.
اعوذ بالله السميع العليم من الشيطان الرّجيم , بسم الله الرحمن الرحيم:
 يأيّها الذين أمنوا اتّقوا الله حقّ تقاته ولاتموتنّ إلاّ وأنتم مسلمون.
 يأيّها النّاس اتّقوا ربّكم الذى خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبثّ منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذى تساءلون به والأرحام إنّ الله كان عليكم رقيبا.
يأيّها الذين أمنوا اتّقوا الله وقولوا قولاسديدا,يصلح لكم أعمالكم و يغفرلكم ذنوبكم, ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما.
فإنّ أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمّد صلّى الله عليه وسلّم, وشرّ الأمورمحدثاتُها وكلَّ محدثة بدعة وكلّ بدعة ضلالة و كلّ ضلالة في النّار. أمّا بعد.
Hadirin sidang jum’at Rahimakumullah!
Alhamdulillahirabbil’aalamin, hari ini kita telah kembali memasuki bulan Rajab, tepatnya tanggal 11 Rajab 1433 H, Bulan Rajab termasuk salah-satu bulan haram, sebagaimana firman Allah:
إنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللّهِ،  يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَات وَالأَرْضَ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلاَ تَظْلِمُواْ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ، وَقَاتِلُواْ الْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَآفَّةً وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ مَعَ الْمُتَّقِينََ
”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu menciptakan langit dan bumi, di antaranya (terdapat) empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus. Maka janganlah kamu menganiaya diri dalam bulan-bulan tersebut, dan perangilah kaum musyrikin sebagaimana mereka pun memerangi kamu, dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS. At-Taubah, 9:36).

Tafsir Ath-Thabari menyebutkan bahwa keempat bulan haram yang dimaksud adalah Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab. Karenanya, pada zaman dulu konon mereka tidak mengenal peperangan yang terjadi pada bulan-bulan tersebut.
bulan-bulan tersebut disebut bulah haram karena memang diharamkannya berperang dan juga perbuatan maksiat di dalam bulan tersebut dosanya akan dilipat-gandakan. Jia masyarakat Jahiliyah pun mengikuti peraturan ini, sudah semestinya kita sebagai umat islam lebih memuliakan lagi bulan Rajab ini.
Rasululah SAW berdabda :
ألاَ إنَّ الزَمَانَ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللهُ السَّمَوَاتِ وَالْأرْضَ ،السَّنَةَ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً مِنْهَا أرْبَعَةُ حَرَمٌ، ثَلَاثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو القَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرُّ بَيْنَ جُمَادِى(الثانية) وَشَعْبَانَ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
”Sesungguhnya zaman berputar sebagaimana bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Dalam setahun terdapat dua belas bulan yang di antaranya terdapat empat bulan yang dihormati, tiga bulan diantaranya berturut-turut Dzulqaidah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab Mudhar, yang terdapat diantara bulan Jumadil Tsaniah dan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadirin sidang jum’at arsyadakumullah!
Pada bulan Rajab inilah sejarah mencatat terjadinya Isra’ Mi’raj. Allah SWT mengisahkan peristiwa agung ini di Surat Al Isra yang dikenal juga dengan Surat Bani Israil ayat pertama:  سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آَيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِير
Artinya; Maha Suci Allah Yang telah memperjalankan hambaNya pada suatu malam dari masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.
Lalu, hikmah dan ibrah apakah yang dapat kita ambil dari peristiwa agung Isra Mi’raj tersebut?
Pertama: Allah adalah Sebaik-baik Penolong
Dalam kitab ar Rahiqul Makhtum karya syekh Shofiyyurohman disebutkan 3 perbedaan pendapat kapan terjadinya Isra’ wal Mi’raj?: Thobari berpendapat pada tahun awal kenabian, an Nawawi dan al Qurthubi berpendapat pada tahun 5 dari kenabian, dan al’allamah al Manshurfuri berpendapat pada malam 27 Rajab tahun ke 10 dari kenabian.  Yang pasti bahwa Isra Mi’raj  terjadi  sebelum Hijrahnya Rasulullah SAW ke Madinah.
Ketika itu, Rasulullah SAW dalam situasi yang sangat “sumpek” dan penuh kepenatan, seolah tiada celah harapan lagi bagi masa depan bagi agama mulia ini. Pada saat itu, isteri tercinta Khadijah al Kubra r.a. dan pamannya, Abu Thalib yang notabene keduanya adalah pembela dan pelindungnya, meninggal dunia pada waktu yang tidak lama berselang. Sementara gangguan dan tekanan fisik maunpun psikis dari kafir Qurays terhadap perjuangan agama paripurna semakin berat. Inilah yang dikenal dengan tahun duka-cita, ‘aamul huzni.
Dalam sitausi yang serba sulit serta musibah beruntun yang diistilahkan dengan kondisi katarsis inilah,  ”rahmah” Allah meliputi segalanya, mengalahkan ketidakberdayaan dan menundukkan segala ketidak-nyamanan. “warahamatii wasi’at kulla syaei”, demikian Allah deklarasikan dalam KitabNya.
Dengan iradat dan qudrat Allah SWT, Rasulullah SAW diperjalankan pada malam hari itu dari Masjidil Haram di Makkah al Mukarromah menuju baitul maqdis Al Aqsho di Palestina untuk menelusuri napak tilas “perjuangan” para Rasul sebelumnya. Bahkan kemudian beliau dibawa serta melihat langsung kebesaran singgasana Ilahiyah di “Sidartul Muntaha”, kemudian ke baitul ma’mur. Sungguh sebuah “perjalanan penyejuk hati” yang menyemaikan ruhul jihad!.
Arti tersiratnya adalah bahwa Allah pasti akan menolong kita sebagai penerus estafet da’wah Rasulullah SAW. Betapa terkadang, di tengah perjalanan kita temukan tantangan dan penentangan yang menyesakkan dada, bahkan mengaburkan pandangan objektif dalam melangkahkan kaki ke arah tujuan. Jikalau hal ini terjadi, maka tetaplah yakin, Allah akan meraih tangan kita, mengajak kita kepada sebuah “perjalanan” yang menyejukkan. “Allahu Waliyyulladziina aamanu yukhrijuhum minadz dzulumaati ilannuur” (Sungguh Allah itu adalah Wali-nya mereka yang betul-betul beriman, Allah akan mengeluarkan mereka dari aneka macam kegelapan kedzaliman menuju satu cahaya Islam”.
Allah juga sudah memberikan garansi dengan pertolongan dan penunjukan jalanNya:
Intanshurullaha yanshurkum, walladziina jaahaduu fiina lanahdiyannahaumsubulana!
Ikhwani fillah a’azzakumullah!
Kedua: Pensucian Hati adalah Bekal Perjalanan
Disebutkan bahwa sebelum dibawa oleh Jibril AS, Rasulullah dibaringkan lalu dibelah dadanya, kemudian hatinya dibersihkan dengan air zamzam. Apakah hati Rasulullah kotor? Pernahkan Rasulullah SAW berbuat dosa? Apakah Rasulullah punya penyakit “dendam”, dengki, iri hati, atau berbagai penyakit hati lainnya?, tentu jawabannya: Tidak. Karena Beliau adalah hamba yang “ma’shuum” (terjaga dari berbuat dosa). Lalu apa arti penting dari pensucian hatinya?
Rasulullah adalah sosok “uswah”, pribadi yang hadir di tengah-tengah umat sebagai, tidak saja sebagai “muballigh” (penyampai), melainkan sosok pribadi unggulan yang harus menjadi “percontohan” bagi semua yang mengaku pengikutnya. “Laqad kaana lakum fi Rasulillahi uswah hasanah”.
Memang betul, sebelum seseorang melakukan perjalanannya, haruslah dibersihkan hatinya. Sungguh, kita semua sedang dalam perjalanan. Perjalanan “suci” yang seharusnya dibangun dalam suasana “kefitrahan”. Berjalan dariNya dan juga menuju kepadaNya. Dalam perjalanan ini, diperlukan lentera, cahaya, atau petunjuk agar selamat menempuhnya. Dan hati yang intinya sebagai “nurani”, itulah lentera perjalanan hidup.
ألا إن في الجسد مضغة، إذا صلحت صلحت سائر عمله، وإذا فسدت فسدت سائر عمله.
Ketiga: Memilih Susu – Menolak Khamar
Ketika ditawari dua pilihan minuman, dengan sigap Rasulullah mengambil gelas yang berisikan susu. Minuman halal dan penuh manfaat bagi kesehatan. Minuman yang berkalsium tinggi, menguatkan tulang belulang. Rasulullah menolak khamar, minuman yang menginjak-nginjak akal, menurunkan tingkat inteletualitas ke dasar yang paling rendah. Sungguh memang pilihan yang tepat, karena pilihan ini adalah pilihan fitri nan suci.
Dengan bekal jiwa yang telah dibersihkan tadi, Rasulullah kemudia melanjutkan perjalanannya. Di tengah perjalanan, memang ada dua alternatif di hadapan kita. Kebaikan dan keburukan. Kebaikan akan selalu identik dengan manfaat, sementara keburukan akan selalu identik dengan kerugian. Seseorang yang hatinya suci, bersih dari kuman dosa dan noda kezaliman, akan sensitif untuk selalu menerima yang benar dan menolak yang salah. Bahkan hati yang bersih tadi akan merasakan “ketidak senangan” terhadap setiap kemungkaran. Lebih jauh lagi, pemiliknya akan memerangi setiap kemungkaran dengan segala daya yang dimilikinya.
Dalam hidup ini seringkali kita diperhadapkan kepada pilihan-pilihan yang samar. Fitrah menjadi acuan, lentera, pedoman dalam mengayuh bahtera kehidupan menuju tujuan akhir kita (akhirat). Dan oleh karenanya, jika kita dalam melakukan pilihan-pilihan dalam hidup ini, ternyata kita seringkali terperangkap kepada pilihan-pilihan yang salah, buruk lagi merugikan, maka yakinlah itu disebabkan oleh tumpulnya firtah insaniyah kita. Agaknya dalam situasi seperti ini, diperlukan asahan untuk mempertajam kembali fitrah Ilahiyah yang bersemayam dalam diri setiap insan.
Keempat: Urgensi Sholat Dalam Kehidupan Seorang Mu’min
Shalat adalah bentuk peribadatan tertinggi seorang Muslim multazim, sekaligus merupakan simpol ketaatan totalitas kepada Yang Maha Sempurna. Pada shalatlah terkumpul berbagai hikmah dan makna ibadah. Shalat menjadi simbol ketaatan total dan kebaikan universal  seorang Muslim.
Maka ketika Rasulullah memimpin shalat berjama’ah yang para ma’mumnya adalah para anbiyaa (nabi-nabi), maka sungguh hal itu adalah suatu pengakuan kepemimpinan dari seluruh kaum yang ada. Memang jauh sebelumnya, Musalah yang menjadi pemimpin sebuah umat besar pada masanya. Bahkan Ibrahim, Eyangnya para nabi dan Rasul, menerima menjadi Ma’mum Rasulullah SAW. Beliau menerima dengan rela hati, karena sadar bahwa Rasulullah memang memiliki kelebihan-kelebihan “leadership”, walau secara senioritas beliaulah yang seharusnya menjadi Imam.
Perjalanan singkat yang penuh hikmah tersebut segera berakhir, dan dengan segera pula beliau kembali menuju alam dunia. Rasulullah sungguh sadar betul bahwa betapapun ni’matnya berhadapan langsung dengan Yang Maha Kuasa di suatu tempat yang agung nan suci, betapa ni’mat menyaksikan dan mengelilingi syurga, tapi kenyataannya beliau masih memiliki tanggung jawab duniawi. Untuk itu, semua kesenangan dan keni’matan yang dirasakan malam itu, harus ditinggalkan untuk kembali ke dunia beliau melanjutkan amanah perjuangan yang masih harus diembannya.
Inilah sikap seorang Muslim multazim. Kita dituntut untuk menjadi kholifah di bumi ini dengan bekal shalat yang kokoh. Jika sholat dikerjakan dengan kekhusyu’an dan keikhlasan maksimal, maka akan menjadikan pelakunya sholeh secara individual dan juga sosial. Karena  inti dari ibadah adalah ma’rifatullah, inti dari ma’rifatullah adalah ahlaq karimah, inti dari ahlaq karimah adalah ukhuwwah imaniyah dan inti dari ukhuwwah imaniyyah adalah idkholus surur fi sudhurilghair (mengembirakan hati orang lain)!.
Hadirin yang mulia!
Kelima: Keyakinan teguh kepada Kebenaran Risalah Muhammad SAW
Pagi hari pasca Isra Mi’raj tersebut Rasulullah merasa sangat risau bagaimana menjelaskan peristiwa yang di luar biasa tersebut kepada umatnya. Di mana dalam mi’raj tersebut beliau diperlihat 4 macam sungai: dua yang dhohir yaitu sungai Nil dan Efrat, dua sungai yang bathin di syurga. Beliau juga melihat malaikat penjaga neraka yang wajahnya sangat sangar tanpa senyum sama sekali, beliau juga melihat syurga dengan segala kenikmatan yang luar biasa dan neraka dengan siksanya yang tak terperikan. Beliau juga melihat aneka siksaan bagi pemakan harta anak yatim, pemakan riba, pelaku zina dan beliau juga melihat sekelompok onta penduduk Makkah yang hilir mudik.
Pada saat gundah-gulana itulah, tampil Abu Bakar yang serta-merta percaya seratus persen dengan apa yang telah terjadi pada Isra Mi’raj. Oleh sebab itulah Abu Bakar mendapat gelar Ash Shiddiq, orang yang jujur dan benar. Sementara di sisi lain, para penentang Rasulullah seperti mendapat amunisi baru untuk menyerangnya dengan sebutan Muhammad telah gila, bagaimana mungkin dalam satu malam telah berhasil mengadakan perjalanan Makkah-Palestina, bahkan ke langit ketujuh?.
Inilah keistimewaan iman yang merupakan hak preogatif Allah SWT. Ketika keimanan seseorang sudah mencapai derajat tertinggi yaitu Ma’rifatullah, sebagai hasil dari pendalaman serta pengejawantahan syari’at, haqiqat dan thariqat, maka ia akan sanggup melampui batas logika dan akal fikiran manusia. Lihatlah, betapa Ibrahim yang harus menyembelih putra kandungnya, ismail. Atau Nuh as yang harus membuat perahu, sementara ia hidup di daratan yang jauh dari lautan. Atau juga masyithoh yang harus bersama bayinya dimasukkan ke dalam air mendidih. Sekali lagi, ketika iman sudah menancap kuat di dalam dada seorang hamba, maka tiada yang diharapkannya kecuali Cinta dan Ridha Allah semata. Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmushshoolihat.
بارك الله لي ولكم في القرأن الكريم ونفعني وايّاكم بما فيه من الايات و الذكر الحكيم, تقبّل الله منّي و منكم تلاوته
انّه هو السميع العليم.
 (disampaikan oleh Abu Ezzat El Wazira di Masjid Jami’ Darunnajah Cipining, Jum’at, 11 Rajab 1433 H)

Pendidikan Pondok Pesantren Darussalam

Pendidikan Pondok Pesantren Darussalam

Pesantren Darussalam adl jenis pesantren yg mempertahankan kemurnian identitas asli sebagai tempat menalami ilmu-ilmu agama (tafaqquh fi-I-din) bagi para santrinya. Semua materi yg diajarkan dipesantren ini sepenuh bersifat keagamaan yg bersumber dari kitab-kitab berbahasa arab (kitab kuning) yg ditulis oleh para ulama’ abad pertengahan.
Dalam perspektif pendidikan Islam Indonesia ada yg menyebutkan bahwa pendidikan pondok pesantren tradisional berposisi sebagai sub ordinat yg bergerak pada wilayah dan domaian pendidikan hati yg lbh menekankan pada aspek “afektif pendidikan “ atau “atticude pendidikan” . Namun sebagian yg lain menyebutkan pendidikan pesantren merupakan bagian tak terpisahkan dari pendidikan nasional yg memberikan pencerahan bagi peserta didik secara integral baik kognitif (knowlagde) afektif (attucude) maupun psikomotorik (skill)
Dengan demikian pesantren dgn sistem dan karakter yg khas telah menjadi bagian integral dari sistem pendidikan nasional meski mengalami pasang surut dalam mempertahankan visi misi dan eksistensi namun tak dapat disangkal hingga saat ini pesantren tetap survive bahkan beberapa diantara bahkan muncul sebagai model gerakan alternatif bagi pemecahan masalah masalah sosial masyarakat desa seperti yg dilakukan Pesantren Pabelan di Mangelang yg mendapat penghargaan “Aga Khan’ tahun 1980.
Efektifitas persantren utk menjadi agent of change sebenar terbentuk krn sejak awal keberadaan pesantren juga menempatkan diri sebagai pusat belajar masyarakat (Commonity learing centre) seperti di contohkan Gur Dur pada Pesantren Denanyar Jombang yg selama 50 tahun tak pernah surut memberikan pengajian dan problem solving gratis pada Ibu ibu rumah tangga di desa desa lingkungan pesantren dan sekitarnya.
Hasil dari kegiatan ini memang bukan orang orang yg berijazah tetapi pembentukan pandangan nilai nilai dan sikap hidup bersama dimasyarakat padahal pembangunan oleh pemerintah acapkali tak manjangkau sisi ini. Disini terlihat jelas bahwa Pesantren bukan saja penyelenggara pendidikan tetapi juga penyelenggara dakwah yg mengajak pada perubahan pola hidup dimasyarakat.
Meskipun dalam melakukan pemecahan masalah masalah sosial masyarakat sekitar pesantren tak menggunakan teori pembanguan seperti yg digunakan pemerintah dan lbh pada gerakan yg dilandaskan pada amal saleh sebagai refleksi dari penghayatran dan pemahaman keberagamaan sang kyai tetapi efektifitas dalam merubah pola hidup masyarakat tak dapat disangsikan. Keunggulan keunggulan itu sesunggunh merupakan kekayaan Bangsa ini yg jika kian mendapat dukungan yg lbh signifikan dari semua pihak dalam skenario besar kehidupan berbangsa maka bukan tak mungkin ia akan menjadi mutiara yg sangat berharga bagi perbaikan bangsa Indonesia. Oleh krn itu sekali lagi melakukan pengamatan terhadap dunia pesantren dgn memakai pendekatan formatif dan teori ilmu ilmu sosial Barat tentu tak akan akurat.
Namun demikian tak berarti pesantren sebagai lembaga pendidikan terbebas dari berbagai kelemahan Para pakar pendidikan mencatat beberapa kelemahan mendasar antara lain :
  1. Di Pesantren belum banyak yg mampu merumuskan visi misi dan tujuan pendidikan secara sistimatik yg tertuang dalam program kerja yg jelas. Sehingga tahapan pencapaian tujuan juga cenderung bersifat alamiyah.
  2. System kepeminpinan sentralistik yg tak sepenuh hilang sehingga acapkali mengganggu lancar mekanisme kerja kolektif padahal banyak perubahan yg tak mungkin tertangani oleh satu orang.
  3. Dalam merespon perubahan cenderung sangat lamban konsep “Almuhafadatu ala al qodim as soleh wal ajdu bil jadidil aslah” selalu ditempatkan pada posisi bagaimana benang tak terputus dan tepung tak terserak padahal ibarat orang naik tangga ketika salah satu kaki meninggalkan tangga yg bawah kaki satu melayang layang diudara bisa jadi terpeleset atau jatuh itu resiko bila takut menghadapi resiko dia tak akan pernah beranjak dari tangga terbawah.
  4. Sistem pengajaran kurang efesien demokratis dan variatif sehingga cepat memunculkan kejenuhan pada peserta didik. Dsb.
Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan yg memiliki beberapa fungsi diantara adl fungsi Tafaqquh fi al din (pendalaman pengetahuan tentang agama) fungsi tarbiyah al akhlaq (pembentukan kepribadian / budi pekerti) dan fungsi pengembangan masyarakat atau pusat rehabilitasi sosial. Ha saja dalam konteks pendidikan tepat proses belajar mengajar konsep tafaqquh fi al din kurang mendapat porsi yg semesti yg terjadi di pesantren penekanan bukan pada tafaqquh fi al din tetapi sekeder transfer ilmu pengetahuan.
Meskipun dipesantren santri lbh mengutamakan capaian substansial keilmuan ketimbang capaian capaian formal akan tetapi tetap ada tuntutan yg mendesak agar ada re-presepsi terhadap pemahaman kitab kuning yaitu bukan sekedar memahami sebagaimana ada hitam diatas putih terhadap teks yg terdapat dalam kitab kuning namun juga konteks historisnya. Atau bahkan tak sekedar kitab kuning tapi juga mungkin kitab putih hitam merah dan biru. tuntutan utk memahami komprehensitas konteks dari leteratur klasik merupakan tuntutan yg amat mendasar sebagai syarat kwalifikasi keilmuan dalam rangka menjawab berbagai tantangan global.
Kultur belajar mengajar di pesantren yg banyak dirasakan sebagai kurang memberi kelonggaran utk berta apalagi berdebat terutama dalam rumusan “mengapa“ hal yg demikian menurut Masdar F Mas’udi (1993 : 11) krn berhubungan erat dgn akar historis yg amat tipikal dalam kehidupan masyarakat islam zaman kemandegan Pertengahan abad ke 13 M.
Di sebagian masyarakat Pesantren terdapat persepsi atau frem yg tak sepenuh benar yakni sebuah frem yg menganggap bahwa ilmu bukanlah sesuatu yg lahir dari proses pengamatan (ru’ya) dan penalaran (ra’yu) melainkan suatu nur yg memancar atau yg dipancarkan dari atas dari sebuah sumber yg tak diketahui bagaimana datangnya. Akhir muncul persepsi bahwa ilmu bukan sesuatu yg harus dicari digali dan diupayakan dari bawah melainkan sesuatu yg ditunggu dari “atas”. Giliran selanjut ternyata bukan hanya ilmu yg diyakini memancar dari atas tetapi juga termasuk kemampuan kemanpuan lain manusia atau bahkan segala sesuatu yg terhampar di alam semesta ini . akibat adl apa yg mesti dilakukan seseorang utk memperoleh ilmu adl menyediakan kondisi spiritual yg kondusif bagi hadir anugrah itu melalui latihan latihan kerohanian (riyadhah) secara intensif dan benar.
Nah dalam proses riyadhah pada perspektif sufi difahami bahwa seorang murid tak ubah bagaikan si buta yg tak mungkin menemukan jalan tanpa uluran tangan seorang guru (mursyid) yg dipercaya mengantarkan kepada Tuhan yg maha kuasa. Disinilah kita dapat memahami posisi guru menjadi demikian signifikan dan vital bagi seorang murid yg hendak mengarungi jalan bathin. Syair sufi mengatakan “ hendaklah dihadapan gurumu engakau bagaikan sebujur mayat ditangan yg memandikannya”. Hal yg seperti ini jelas akan melemahkan daya kritis dan kreatifitas pada masyarakat pesantren lbh lebih di jaman serba canggih ini.
Dipesantren lbh banyak menghafal ketimbang kemampuan memahami dan menalar ilmu ilmu itu diakui bahwa kemampuan mengingat dan menghafal bukan sesuatu yg tak penting akan tetapi mesti seimbang dgn kemampuan menalar sebab kalau dimensi menalar dilemahkan maka dgn sendiri santri menjadi tak mempunyai daya kritisitas yg memadai. Akhir proses pendidikan hanya bersifat transfer (memindahkan) tak ada proses pendalaman pemahaman dan kajian. Nah bila ini yg terjadi maka bukan tafaqquh tapi hanya tahafudz.
Leteratur yg dikaji jangan hanya terbatas pada kitab yg sudah menjadi barang jadi seperti fahtul muin fathul wahab tetapi diprioritaskan pada ilmu metodologi seperti : ushul fiqh tarikh tasyri’ dan semacamnya.
Walhasil bahwa pendidikan di pesantren ada kelemahan dan kelebihan tapi jika pesantren mampu mengeleminir kelemahan tersebut dan mengoptimalkan kelebihan maka bukan tak mungkin ia menjadi salah satu alternatif yg cukup menjajikan dimasa masa yg akan datang terutama ditengah pengap system pendidikan nasional yg cenderung lbh menekankan pada education for the brain dan relatif mengabaikan Education for The heart yg giliran hampir bisa dipastikan akan menghasilkan over educated society kian membludak pengangguran elit intelektual meraksasa dalam tehnik tapi merayap dalam etik pongah dgn pengetahuan tapi bingung dalam menikmati kehidupan cerdas otak tapi bodoh nuraninya. Dalam suasana yg seperti ini lembaga pendidikan pesantren akan dilirik utk memainkan peran sebagai :
  1. Lembaga pendidikan yg memadu pendidikan integralistik humanistik pragmatik idealistik dan realistik.
  2. Pusat rehabilitasi sosial (banyak keluarga yg mengalami kegoncangan psikologi spiritual akan mempercayakan penyeklamatan pada pesantren)
  3. Sebagai pencetak manusia yg punya keseimbangan trio cerdas yakni Kecerdasan Intelektual (IQ) Kecerdasan Emosional (EQ) Dan kecerdasan Spiritual (SQ).
Dalam melaksanakan sistem dan proses pengajaran pendidikan pondok pesantren dalam perspektif pendidikan Islam Indonesia mempunyai peran serta memiliki unsur-unsur atau kontribusi pemikiran terhadap berkembang dan tumbuh pendidikan Islam. Dalam hal ini lembaga pendidikan yg mengajarkan agama Islam kepada masyarakat dan anak-anak Indonesia telah lahir dan berkembang semenjak masa awal kedatangan Islam di negeri ini. Pada masa awal kemunculan lembaga pendidikan ini bersifat sangat sederhana berupa pengajian al-Qur’an dan tata cara beribadah yg diselenggarakan di masjid surau atau dirumah-rumah ustadz.
Keberadaan lembaga-lembaga yg tersebut di atas kemudian muncul dan berkembang dgn nama pesantren ini terus tumbuh didasari tanggung jawab utk menyampaikan Islam kepada masyarakat dan generasi penerus. Pondok sebagai asrama tempat tinggal para santri masjid sebagai pusat peribadatan dan pendidikan santri sebagai pencari ilmu pengajaran kitab kuning serta kiai yg mengasuh merupakan lima elemen dasar keberadaannya.
Secara mayoritas pondok pesantren merupakan komunitas belajar keagamaan yg erat hubungan dgn lingkungan sekitar pada umum masyarakat pedesaan. Komunitas tersebut kehidupan keagamaan merupakan bagian integral dalam kenyataan hidup sehari-hari dan tak dianggap sebagai sektor yg terpisah. Oleh krn itu sosok kiai dalam dunia pondok pesantren tak dapat dipisahkan krn keberadaan merupakan unsur yg paling signifikan dan sebagai pimpinan keagamaan atau sesepuh yg diakui di lingkungan serta diperhatikan nasehat-nasehatnya.
Oleh sebab itu pondok pesantren bukan diperuntukkan sebagai tempat pendidikan bagi santri semata melainkan juga bagi masyarakat sekitarnya. Hal ini berbeda dgn lembaga-lembaga pendidikan lain yg pada umum menyatakan tujuan pendidikan dgn jelas.
Sebagaimana telah dijelaskan atau dideskripsikan pada pembahasan sebelum inti atau penekanan pendidikan pondok pesantren sebagai wadah dan tempat tercapai suatu pendidikan Islam Indonesia yakni tercapai tujuan pembangunan nasional bidang pendidikan. Secara realistis banyak kalangan menilai bahwa sistem pendidikan yg berlangsung di tanah air ini masih belum mampu mengantarkan tercapai pendidikan Islam yaitu membangun manusia Indonesia seutuhnya. Terbukti semakin marak tawuran antar pelajar konsumsi pengedaran narkoba yg merajalela kurang rasa hormat peserta didik kepada pendidik dan orang tua muncul egoisme kesukuan yg mengarah kepada separatisme rendah moral para penyelenggara negara serta lain sebagai adl indikasi-indikasi yg mendukung penilaian di atas. Berpijak dari konsep dasar itulah pendidikan pondok pesantren mencoba memberikan respon dalam menanggapi sistem pendidikan yg ada di tanah air ini dan dituntut ada penyikapan yg arif dan bijaksana.